Skip to content
Cairan Pemadam Karhutla yang Efektif untuk Lahan Gambut

Cairan Pemadam Karhutla yang Efektif untuk Lahan Gambut

Table of Contents

Pernahkah Anda melihat asap tebal terus mengepul meski petugas sudah menyiram lahan berjam-jam? Faktanya, api di lahan gambut sering bersembunyi di bawah tanah. Karena itu, cairan pemadam karhutla yang tepat menjadi kunci untuk mematikan bara sampai ke dasarnya. Selain itu, pemahaman yang benar membantu masyarakat dan petugas memilih cara pemadaman yang lebih cepat dan hemat air.

Kenapa Api di Lahan Gambut Sulit untuk Dipadamkan?

Kenapa Api di Lahan Gambut Sulit untuk Dipadamkan?
Kenapa Api di Lahan Gambut Sulit untuk Dipadamkan?

Pertama, Anda perlu tahu bahwa gambut membakar dengan cara yang berbeda dari rumput atau semak. Oleh sebab itu, enam alasan berikut menjelaskan mengapa api di gambut begitu keras kepala.

1. Api Menjalar di Bawah Permukaan

Gambut terbakar tanpa nyala besar, tetapi membara pelan di dalam tanah. Akibatnya, petugas hanya melihat asap tanpa tahu letak pusat panas. Bahkan, bara ini bisa merambat jauh dari titik awal.

2. Gambut Menyimpan Banyak Bahan Bakar

Gambut terbentuk dari sisa tumbuhan yang menumpuk selama ratusan hingga ribuan tahun. Karena itu, lapisan ini kaya bahan organik yang mudah terbakar. Selain itu, ketebalannya membuat bara bertahan sangat lama.

3. Gambut Kering Menolak Air

Saat kering, permukaan gambut bersifat hidrofobik, artinya menolak air. Dengan demikian, air siraman hanya mengalir di permukaan dan tidak meresap. Padahal, bara justru berada jauh di dalam.

4. Panas Tersisa Memicu Api Muncul Lagi

Tanah gambut menyimpan panas dalam waktu lama. Oleh sebab itu, api bisa menyala kembali meski permukaan tampak sudah padam. Menurut petugas di lapangan, bara yang belum benar-benar mati sering memicu kebakaran ulang.

5. Sumber Air Terbatas saat Kemarau

Kebakaran besar biasanya terjadi pada musim kering. Akibatnya, sungai dan kanal menyusut sehingga petugas kesulitan mencari air. Bahkan, tim pemadam sering harus membuat sumur bor di lokasi.

6. Titik Panas Sulit Dijangkau

Lahan gambut luas, berawa, dan jauh dari jalan. Selain itu, bara tersembunyi tidak terlihat dengan mata telanjang. Karena itu, sebagian tim memakai drone termal untuk mencari titik panas di dalam tanah.

Kenapa Memadamkan dengan Air Saja Tidak Cukup?

Kenapa Memadamkan dengan Air Saja Tidak Cukup?
Kenapa Memadamkan dengan Air Saja Tidak Cukup?

Selanjutnya, banyak orang mengira air adalah jawaban utama. Namun, lima alasan berikut menunjukkan bahwa air biasa punya keterbatasan ketimbang cairan pemadam karhutla yang khusus untuk gambut.

1. Air Meluncur di Permukaan

Tanah gambut kering menolak air seperti kain berlapis minyak. Akibatnya, sebagian besar air mengalir ke samping dan tidak mencapai bara. Dengan demikian, usaha menyiram terasa sia-sia.

2. Kebutuhan Air Sangat Besar

Untuk menembus lapisan gambut, petugas perlu menyiram dalam jumlah banyak. Padahal, mereka sulit mencari air saat kemarau. Karena itu, pemadaman memakan waktu lama dan tenaga besar.

3. Air Hanya Mendinginkan, Tidak Membasahi Dalam

Air biasa bekerja dengan menurunkan suhu permukaan. Sementara itu, bara di bagian bawah tetap panas. Akibatnya, api bisa naik kembali setelah air habis.

4. Asap Tetap Muncul

Pada kebakaran gambut, pemadaman dengan air biasa masih menyisakan asap. Hal ini terjadi karena bara dalam tanah belum padam sepenuhnya. Oleh sebab itu, warga sekitar tetap menghirup kabut asap.

5. Risiko Kebakaran Ulang Tetap Tinggi

Bara yang tersisa bisa menyala lagi beberapa jam atau hari kemudian. Selain itu, petugas harus kembali ke lokasi yang sama berulang kali. Dengan demikian, tenaga dan biaya pemadaman terus bertambah.

Wetting Agent, Solusi Cairan Pemadam Karhutla yang Efektif untuk Lahan Gambut

Wetting Agent, Solusi Cairan Pemadam Karhutla yang Efektif untuk Lahan Gambut
Wetting Agent, Solusi Cairan Pemadam Karhutla yang Efektif untuk Lahan Gambut

Berikutnya, mari kenali wetting agent yang bisa menjadi solusi cairan pemadam karhutla untuk mengatasi kelemahan air biasa. Wetting agent atau surfaktan adalah bahan kimia yang membuat air lebih mudah membasahi permukaan. Pada dasarnya, molekulnya punya dua sisi: satu sisi menyukai air dan satu sisi menolak air. Karena itu, bahan ini menurunkan tegangan permukaan air sehingga cairan menyebar dan meresap, bukan menggumpal. Sehingga air mampu menembus gambut kering yang bersifat hidrofobik sampai ke bara di dalam tanah.

Sebagai bukti, penelitian di Palangka Raya menunjukkan larutan sabun ramah lingkungan 1 persen lebih efektif daripada air saja. Bahkan, cairan itu mengurangi jumlah bahan dan waktu pemadaman. Selain itu, petugas hanya perlu mencampurkan wetting agent dalam jumlah kecil ke dalam air. Oleh karena itu, pilih cairan pemadam karhutla yang terbukti aman bagi tanah, air, dan satwa, karena gambut adalah ekosistem yang rapuh.

PT Samidi Udaya menghadirkan rangkaian solusi kimia khusus untuk berbagai kebutuhan industri di Indonesia, segera hubungi kami melalui nomor WhatsApp berikut ini!

Kesimpulan

Pada akhirnya, cairan pemadam karhutla berbahan wetting agent membantu air menembus gambut dan mematikan bara dari dalam. Air biasa memang mudah ditemukan, tetapi cairan ini menawarkan pembasahan yang lebih dalam dan pemadaman yang lebih hemat. Namun, hasil terbaik tetap bergantung pada deteksi titik panas, teknik penyemprotan yang tepat, dan pemeriksaan ulang setelah api padam. Oleh karena itu, pemerintah, petugas, dan perusahaan perlu bekerja sama memilih cairan pemadam karhutla yang teruji dan ramah lingkungan. Selain itu, pencegahan seperti menjaga kebasahan gambut tetap menjadi langkah terbaik sebelum api muncul.